TEMULAWAK

Sekilas Tanaman

Temulawak adalah salah satu anggota dari deretan keluarga suku Zingiberaceae, rempah satu ini memang sudah sejak dahulu digunakan sebagai obat tradisional, Temulawak telah dibudidayakan dan banyak ditanam di pekarangan atau tegalan, juga sering ditemukan tumbuh liar di hutan dan padang alang-alang. Tanaman ini lebih produktif pada tempat terbuka yang terkena sinar matahari dan dapat tumbuh mulai dari dataran rendah sampai dataran tinggi.(1)

Tanaman yang dipercaya berasal dari Indonesia ini kini telah dibudidayakan di berbagai Negara asia tenggara seperti Indonesia, Malaysia, Thailand dan Filipina. Di beberapa daerah di Indonesia temulawak dikenal juga dengan nama; koneng gede (Sunda); temulawak (Jawa); temo labak,  (Madura); tommo (Bali); tommon (Sulawesi Selatan); karbanga (Ternate).(1,2) Temulawak merupakan tumbuhan tahunan yang hidup berumpun dan berbatang semu berupa gabungan beberapa pangkal daun yang terpadu. Tiap batang memiliki 2-9 helai daun, bunganya berukuran pendek dan lebar, warna putih atau kuning tua dan pangkal bunga berwarna ungu.(3)

Kandungan Senyawa Aktif

Rimpang temulawak sejak lama dikenal sebagai bahan ramuan obat terutama jamu godog yang terkenal dengan jamu gendong. Aroma dan warna khas dari rimpang temulawak adalah berbau tajam dan daging buahnya berwarna kekuning-kuningan. Di dalamnya terkandung protein, pati, zat warna kuning kurkuminoid, kurkumin dan minyak atsiri. Kandungan kimia minyak atsirinya antara lain feladren, kamfer, turmerol, tolimetilkarbinol, arkurkumen, zingiberen, kuzerenon, germaktan, ?-tumeron dan xanthorizol (kandungan tertingi 40%).(1,2,3)

Efek Farmakologis

Saat ini dalam Industri farmasi dan Obat Tradisional, tanaman temulawak ini sudah di daftarkan sebagai sediaan fitofarmaka (kandungan kurkumin) yang mempunyai efek farmakologis antara lain sebagai :

  • Hepatoprotektor
  • Antiulcer (antitukak lambung)
  • Antiinflamasi
  • Antidiare
  • Antimalaria
  • Immunomodulator (meningkatkan daya tahan tubuh)(1,3)

Penggunaan Tradisional

Di Aceh rimpang temulawak digunakan dalam ramuan untuk penambah darah atau untuk mengatasi malaria. Masyarakat etnis Sakai di Bengkalis, Riau, menggunakan rimpang temulawak untuk penambah nafsu makan, sedangkan masyarakat Tatar Sunda menggunakannya untuk mengobati sakit kuning dan mengatasi gangguan perut kembung. Etnis Jawa menggunakannya sebagai obat mencret. Masyarakat Bali menggunakannya untuk mengatasi gangguan lambung perih dan kembung, sedangkan masyarakat etnis Madura sebagai obat keputihan. Komunitas penggemar jamu gendong menggunakan godogan rimpang temulawak sebagai penguat daya tahan tubuh dari serangan penyakit.

Masyarakat Jawa Tengah biasanya memberikan ramuan ini kepada anak-anak yang susah makan, sebab disinyalir ramuan temulawak dapat meningkatkan nafsu makan. Bahkan dipercaya juga sebagai jamu yang memperlambat proses penuaan, menghilangkan flek hitam di wajah serta menjaga kelenturan tubuh. Perempuan sehabis melahirkan disarankan meminumnya, begitu menurut kepercayaan masyarakat Jawa.. Temulawak memiliki kandungan minyak atsiri yang memang membangkitkan selera makan, membersihkan perut dan memperlancar ASI.(3)

Penggunaan temulawak secara tradisional dapat dipilah menjadi beberapa aktivitas menonjol, misalnya mengatasi gangguan pencernaan, mengobati sakit kuning, keputihan, malaria, meningkatkan daya tahan tubuh dan memelihara kesehatan hati.(3,4)

Hasil penelitian

  1. Efek antikolestrol

Ekstrak air temulawak dapat menurunkan kadar kolesterol total dan trigliserida darah kelinci dalam keadaan hiperlipidemia, tetapi tidak berpengaruh pada HDL kolesterol. (Abdul Naser jurusan Farmasi FMIPA, UNPAD, 1987). Dalam penelitian lain menyebutkan Kurkuminoid temulawak dapat menurunkan kadar kolesterol total dan trigliserida darah kelinci dalam keadaan hiperlipidemia Peningkatan kadar HDL kolesterol hanya berpengaruh pada pemberian 20 mg kurkuminoid (Pramadhia Budhidjaya Farmasi FMIPA, UNPAD, 1988).(2)

  1. Hepatoprotektor

Infus rimpang temulawak 5, 10, dan 20 %  dapat meningkatkan daya regenerasi sel hati secara nyata dibanding kontrol pada tikus putih jantan yang dirusak sel hatinya dengan 1,25 ml karbon tetraklorida/kg bb secara peroral (Setiawan Angtoni, Fakultas Farmasi -UBAYA, 1991).

Pada penelitian lain, ekstrak air temulawak 10 % b/v dengan dosis 6, 8, dan 10 ml/hari dapat menurunkan kadar SGOT dan SGPT darah kelinci yang terinfeksi virus hepatitis B, tetapi tidak berpengaruh terhadap virus hepatitis B. (Sumiati Yuningsih, Jurusan Farmasi FMIPA,UNPAD,1987).(2)

  1. Efek antimikroba dan antibakteri

Ekstrak temulawak membuat bakteri Streptococcus, Actinomyces, viscosus, dan Porphyromonas gingivalis di gigi mati. Xanthorizol memicu denaturasi protein sel bakteri  yang ujung-ujungnya memaksa protein itu keluar sel. Berikutnya sel akan mengkerut dan mati. Ekstrak rimpang temulawak juga bereaksi positif terhadap dua spesies bakteri gram positif (S, aureus, B. subtilis), dan dua spesies bakteri gram negative (E. coli, Salmonella sp).(5)

  1. Efek antiinflamasi

Di beberapa negara di Asia tenggara, tumbukan halus rimpang temulawak digunakan sebagai masker dan obat luar mengatasi pembengkakan kulit. Kandungan senyawa aktif dalam temulawak menghambat 12-O-tetradecanolyphorbol-13-acetate (TPA), senyawa pencetus edema pada tikus percobaan.(5)

  1. Efek antioksidan

Xanthorrhizol, senyawa identitas dari temu lawak, memiliki aktivitas antioksidan dan antimutagenik lebih baik dari pada kurkumin. Dengan ames test, pada kadar 10 nM/plate menghambat mutagesis 64% sel Salmonella thypimurium yang diinduksi oleh hydrogen peroksida. Uji in vivo pada tumor diinduksi DMBA dilaporkan bahwa sekitar 50% mencit tidak terbentuk tumornya dengan pemberian 6 µmol pertopikal selama 19 minggu. (6)

Produk Herbal Indo Utama

Produk Herbal Indo Utama yang mengandung bahan tanaman obat Temulawak dan kombinasinya, telah memenuhi standart mutu dan khasiat yang ditetapkan oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan RI antara lain adalah :

(Oleh : Tim Traditional Herbal Medicine – Herbal Indo Utama)

Referensi :

  1. 2012. Vademikum Tanaman Obat ; Untuk Saintifikasi Jamu. Jilid 1. Hal 58-66. Jakarta : Kementerian Kesehatan RI
  2. Setiawan Dalimartha. 2008. Atlas Tumbuhan Obat Indonesia, Jilid 2, Hal.182-190. Jakarta : Trubus Agriwidya
  3. dr. H. Azwar Agoes, DAFK, Sp.FK. 2010. Tanaman Obat Indonesia Buku 1, Hal.99-101. Jakarta : Salemba Medika
  4. 2006. Acuan Sediaan Herbal, Vol.2, Ed.1, Hal.64, Jakarta : Badan POM RI
  5. 2010. Trubus info kit vol.08 : Herbal Indonesia Berkhasiat, Bukti Ilmiah dan Cara Racik, Hal. 143-146. Depok : PT. Trubus Swaday
  6. 2010. Monografi Ekstrak Tumbuhan Obat Indonesia, Revisi Volume 1. Hal 273-280. Jakarta : BPOM RI

 

Temulawak, Rimpang Pelindung Hati
Tagged on:                                 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *