Seminar Iklan Herbal Yogyakarta

BANYAK MENYIMPANG, IKLAN HERBAL KINI JADI PERHATIAN AKADEMISI DAN YLKI

September 2016 lalu tim reportase kami mengikuti sebuah kegiatan Seminar yang diselenggarakan di Universitas Gajah Mada Yogyakarta dan diisi oleh para akademisi dari Dosen Farmasi UGM, Institusi Balai Besar Pemeriksaan Obat dan Makanan provinsi DIY dan perwakilan dari Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia. Berikut hasil reportasenya,

Menurut WHO, sekitar 60 % negara maju saat ini menggunakan pengobatan tradisional, sehingga peluang pasar herbal masih terbuka lebar. Peluang inilah yang kini menjadi perhatian dari kalangan produsen obat tradisional dan farmasi berlomba-lomba menghadirkan produk yang diklaim sebagai obat herbal. Salah satunya melalui media iklan.

Jpeg

Iklan merupakan salah satu cara yang efektif dalam mempromosikan herbal, iklan bermanfaat untuk memperkenalkan produk, membujuk konsumen, memberi nilai tambah, meningkatkan penjualan dan menciptakan brand image. Tetapi sangat disayangkan, karena masih banyak iklan herbal yang melanggar ketentuan yang telah diatur sesuai undang-undang periklanan obat tradisional, diantaranya :

  1. Menampilkan gambar, tanda, tulisan dan lainnya yang tidak sopan
  2. Menawarkan hadiah atau memberikan pernyataan garansi
  3. Memuat rekomendasi atau testimoni dari seseorang, profesi kesehatan, tokoh dan lainnya
  4. Memuat khasiat dan kegunaan yang berlebihan atau menyesatkan (overklaim)
  5. Iklan ilegal, tidak didaftarkan ke Badan POM RI
  6. dsb

Menurut Badan POM RI, saat ini hanya sekitar 18% saja materi-materi iklan herbal yang legal dan memenuhi persyaratan yang ada. Tapi sangat disayangkan belum banyak konsumen yang sadar terhadap label atau iklan herbal.

Badan POM RI juga telah bekerja sama dengan berbagai pihak, seperti Komisi Penyiaran Iindonesia, Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia, Kominfo, Kalangan Akademisi serta pihak lainnya untuk terus berupaya memberantas iklan yang ilegal atau melanggar dan tidak sesuai dengan peraturan yang ada, selain itu juga mengedukasi masyarakat, meningkatkan kesadaran konsumen dan pelaku usaha mengenai iklan yang sesuai peraturan.

Jpeg

Iklan herbal saat ini sudah menjadi perhatian Lembaga Konsumen Indonesia, dimana saat ini sudah terdapat 250 Yayasan atau Lembaga Konsumen yang tersebar di seluruh Indonesia. Kalangan akademisi pun sudah perhatian dan menilai iklan Herbal yang ada di berbagai media. Bisa jadi, salah satu penyebab rusaknya citra Herbal dan sulitnya Herbal bisa diterima oleh Profesi Kesehatan dikarenakan akibat dari materi iklan yang berlebihan dan tidak obyektif, bahkan terkadang tidak rasional.

Bahkan sebagian kalangan mengganggap produk Herbal dikatakan berkualitas apabila iklannya pun berkualitas dan sesuai Regulasi. Saat konsumen semakin cerdas, Pelaku Usaha dan industri obat tradisional harus kreatif dan inovatif dalam mempromosikan produknya, tanpa harus melanggar Regulasi yang ada.

Sumber : Tim Reportase Herbal Indo Utama

Jpeg

Related Post

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *