Seminar “Diseminasi Informasi Harmonisasi Asean di Bidang Obat Tradisional”

Seminar yang diselenggarakan di Semarang, tanggal 10 Agustus 2016 oleh Badan POM RI ini diisi oleh Direktur Standarisasi Badan Pemeriksaan Obat dan Makanan RI, Kepala Balai Besar POM Semarang dan Tim Ahli Badan POM.

Jpeg

Seminar ini berisi tentang hasil kesepakatan negara-negara ASEAN mengenai Obat Tradisional, terutama terkait standar keamanan dan khasiatnya, dalam rangka menyambut perdagangan bebas di negara-negara ASEAN atau disebut juga MEA (Masyarakat Ekonomi Asean. Yang nantinya dijadikan standart atau rujukan untuk produk yang akan masuk dipasarkan ke Negara lain sesama anggota Asean. Dimana keetentuan peraturan BPOM yang ada nantinya juga akan mengacu pada hasil kesepakatan ini, sehingga apabila sebuah produk herbal sudah sesuai dengan standar Badan POM RI maka sesungguhnya produk tersebut sudah sesuai dengan standar negara ASEAN, proses ekspor ke Negara-negara anggota ASEAN akan lebih mudah. Disamping itu juga menjadi perhatian Badan POM juga untuk mengawal kesepakatan antar Negara ini agar posisi Indonesia bisa diuntungkan dan tidak diserbu oleh produk-produk herbal asing yang masuk ke Indonesia.

Hal yang perlu diperhatikan oleh Para Pelaku Usaha, baik produsen, distributor maupun pedagang obat tradisional adalah menjaga agar kualitas produk yang dihasilkan terjaga baik mulai dari proses produksi, penyimpanan dan pendistribusian barang

Kualitas sebuah produk herbal bisa turun akibat proses pengiriman dan penyimpanan yang kurang baik dan tidak memenuhi standart mutu produk. Begitu banyak pproduk herbal yang kualitasnya baik ketika baru selesai diproduksi tetapi rusak ketika berada di tangan konsumen. Hal ini membuktikan bahwa ada masalah dalam managemen penyimpanan dan pendistribusian.

Setiap produk herbal wajib mencantumkan cara penyimpanan, yaitu : “Disimpan pada suhu yang sejuk, kering dan terhindar dari sinar matahari langsung”. Dengan standar suhu penyimpanan adalah kurang dari 30 C.

Walaupun pada produk sudah tercantum cara penyimpanan, tapi pelaku usaha sering menyepelekan hal tersebut, dianggap itu hanya syarat untuk izin TR saja.

Jpeg

Produk herbal bisa rusak apabila terkena sinar matahari langsung dan suhu penyimpanan atau ketika pengiriman lebih dari 30 C. Badan POM meminta kepada Pelaku Usaha untuk memantau suhu penyimpanan dan pengiriman, misal dengan memasang termometer di kendaraan untuk pengiriman dan di gudang, dimana 2 hal tersebut merupakan titik kritis yang suhunya bisa melebihi 30 C.

Alhamdulillah Tim HIU ikut serta dalam kegiatan tersebut, dimana hal ini sangat bermanfaat bagi kami untuk senantiasa mampu memperbaiki dan menjaga kualitas produk.

Insya Alloh kami dari Tim HIU selalu berusaha memberikan yang terbaik. Dan semoga Alloh memberikan kemudahan dalam segala urusan kita.

Sumber : Tim Reportase Herbal Indo Utama

Related Post

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *